Jumat, 19 Mei 2017




A. Identitas Buku

Judul buku        : Katak Hendak Jadi Lembu
Pengarang          : Nur Sutan Iskandar
Penerbit             : Balai Pustaka
Tempat terbit    : Jakarta
Tahun terbit      : 1935(pertama),dan 2008(di cetak ulang)
Jumlah halaman  : 224

Katak Hendak Menjadi Lembu ini adalah sebuah novel klasik karangan Nur Sutan Iskandar yang mengisahkan tentang kehidupan seseorang yang gila akan pangkat atau bertingkah layaknya katak yang hendak jadi lembu dan kehidupannya dalam berumah tangga.
B.   Sinopsis
Suria adalah seorang mantri kabupaten yang sangat sombong,egois, dan gila hormat. Dia mempunyai 3 orang anak dan seorang istri yang sangat baik dan penyayang yaitu zubaidah. Kehidupan keluarganya tidak begitu harmonis mereka saling acuh tak acuh tetapi zubaidah sangat perhatian kepada keluarganya, zubaidah kadang sangat jengkel kepada suaminya yang hidup dengan berfoya-foya dan jarang untuk membiayai anaknya bersekolah apalagi ia memiliki hutang yang sangat banyak.
Sebenarnya ayahnya zubaidah, Hj. Hasbullah ingin menikahkan zubaidah dengan Raden Prawira tetapi ayahnya suria yaitu Hj. Zakaria memohon untuk menikahkan anaknya dengan suria karena mereka berdua bersahabat, dan akhirnya mereka menikah tetapi pernikahan tersebut tidak membawa kebahagian dalam hidup zubaidah.
Di tempat ia bekerja dia dikenal dengan keangkuhannnya,kadang-kadang ia suka memerintah orang dengan seenaknya,dan semua orang harus menghormatinya. Suria pernah di undang oleh Hj.Junaedi ke rumahnya yang besar. Hj.Junaedi menyambutnya penuh sukacita. Tapi, setelah ia tahu bahwa Suria yang gila hormat itu, dan sering menjelekan Kosim. Ia pun menjadi sebal dengan Suria.
Karena suria senang berfoya-foya kebutuhan keluarganya semakin menurun, biarpun dinasehati oleh zubaidah suria pun tetap ingkar, malah dia memaksa mertuanya untuk meminjam uang tetapi pada saat itu mertuanya tidak memiliki uang dan dalam keadaan kekurangan, akhirnya suria pun menjadi Klerk dengan gaji yang lebih besar.
Setelah itu dia merayakannya dengan membeli barang yang tidak diperlukan karena ia merasa gaji sebagai klerk jauh lebih besar, tetapi nasi sudah menjadi bubur dia pun akhirnya tidak menjadi klerk dan hutangnya semakin membesar karena barang –barang itu, yang akhirnya membuat suria mengundurkan diri dan tinggal menumpang ke rumah anak sulungnya yang tinggal di bandung bersama keluarganya dan meninggalkan hutang-hutangnya
Walaupun sudah tinggal menumpang ia tetap saja pada kepribadiannya yang dulu dan membuat istrinya meninggal karena perbuatannya yang menjadi-jadi. Akhirnya anak sulung suria yang telah berumah tangga serta saudara-saudaranya mengusir suria dan suria pun merantau ke rumah orang tuannya Disana ia tinggal bersama Mak Iyah, ibunya. Tetapi, setelah beberapa hari ia tinggal. Ia pergi dan tak kembali lagi. Ia pergi entah kemana.

C.  Unsur instrinstik
1.    Tema                          : Sosial dan Moral
 2. Tokoh dan penokohan  
   a. Suria                        : angkuh,egois, serakah,dan pemalas
   b. Zubaidah                  : baik hati,perhatian,dan penyayang
   c. R. Muhammad Kosim  : ramah dan mudah tersinggung
   d. Hj. Hasbullah            : jujur, ramah, dan suka menolong
   e. Hj Zakaria                : baik dan penyayang
   f. Suminta                    : ramah, sopan, dan penurut
    
g. Patih R.Atmadi Nata : baik dan bijaksana
    
h.Abdulhalim                 : ramah dan baik
   i. Sastrawijaya              : baik dan bijaksana

   j. Hamzah                      : baik dan bijaksana
   k. Hj Junaidi                 : sopan,ramah,dan mudah tersinggung
   l. Khadijah                     : bijaksana dan ramah
  m.Saleh                          : periang
  n. Aminah                       : penurut
 3. Latar
     a. Tempat  : rumah suria, kantor, rumah Hj Junaidi, dan rumah   Abdulhalim
     b. Waktu   : malam,pagi,dan siang
     c. Suasana : hening, bahagia,mencengkam,ribut,dan haru
4. Alur                            : maju-mundur
5. Sudut pandang            : Orang ketiga serba tahu
6. Amanat                       : kita sebaiknya tidak boleh angkuh dan sombong kepada sesama manusia karena kita di mata tuhan itu sama
7. Gaya bahasa               : melayu ( terdapat banyak majas )

D.  Unsur ekstrinsik
1.    Nilai yang terkandung

a.   Nilai moral   :-sebaiknya kita tidak boleh sombong dan
                      angkuh karena kita adalah makhluk yang
                      lemah di mata tuhan
                     -sebaiknya kita bersabar dalam menghadapi
                      cobaan
b.   Nilai sosial   :-kita seharusnya saling tolong menolong antar
                      sesama
                     -sesama manusia kita patutnya saling bergaul
                      biarpun pangkatnya berbeda atau lainnya
c.   Nilai budaya : Kawin paksa yang terjadi di zaman dahulu

2.   Biografi Pengarang
Sastrawan yang memiliki nama asli Muhammad Nur ini dilahirkan di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, 3 November 1893. Pendidikannya ditempuh di Sekolah Melayu Kelas II (1908). Selanjutnya, ia belajar untuk menjadi guru bantu (tamat 1911) dan menempuh ujian Klein Ambtenaars Examen. Menjadi guru bantu di Muarabeliti, Palembang, Sumatera Selatan, dan pindah ke kota Padang, Sumatera Barat, untuk menjadi guru Sekolah Melayu Kelas II di kota tersebut (1914).
Tahun 1919, ia meninggalkan kota Padang dan hijrah ke Jakarta. Di Jakarta, ia bekerja di Balai Pustaka. Sambil bekerja, ia terus berusaha untuk menambah pengetahuannya, baik secara formal maupun nonformal. Tahun 1921, ia dinyatakan lulus dari Kleinambtenaar (pegawai kecil) di Jakarta dan pada tahun 1924, mendapat ijazah dari Gemeentelijkburen Cursus (Kursus Pegawai Pamongpraja) di Jakarta. Ia pun terus memperdalam kemampuan berbahasa Belandanya.
Berkat ketekunannya, ia menjadi orang yang pertama bekerja di Balai Pustaka sebagai korektor naskah karangan, dan selanjutnya diangkat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925 -- 1942) dan Kepala Pengarang Balai Pustaka (1942 -- 1945).
Dalam beberapa karya asli yang ia tulis, tercatat beberapa kali ia menggunakan pengalaman pribadinya untuk dituangkan ke dalam sebuah karyanya, antara lain dalam karya "Apa Dayaku karena Aku Perempuan" (novel, 1922), "Cinta yang Membawa Maut" (novel, 1926), "Salah Pilih" (novel, 1928), dan "Karena Mertua" (novel, 1932), ia banyak bercerita tentang kepincangan yang terjadi dalam masyarakatnya, khususnya yang berkaitan dengan adat istiadat. Pengalaman ke tempat pelacuran bersama Dr. Sutomo dituangkannya menjadi sebuah karangan yang diberi judul "Neraka Dunia" (novel, 1937). Dalam "Pengalaman Masa Kecil" (kumpulan cerpen, 1949), Nur Sutan Iskandar dengan jelas bercerita tentang keindahan kampung halamannya dan suka duka masa kecilnya. Sedangkan karya tulisnya yang berupa saduran dan terjemahan, ia ambil dari beberapa buku karya pengarang asing seperti Moliere, Jan Ligthrta, Alexandre Dumas, H. Rider Haggard, Arthur Conan Doyle, K. Gritter, dll..
Sumber :http://pelitaku.sabda.org/nur_sutan_iskandar

E.   Keunggulan novel ini: -Ceritanya sangat menarik
                                      -Terdapat banyak nilai moral didalamnya
                                      -Pengemasannya yang sangat apik

F.   Kelemahan novel ini : -Bahasanya kurang bisa dipahami
                                 -Terdapat banyak majas
                                 -Ceritanya tidak cocok untuk para pemuda

 G. Kesimpulan               
Dengam membaca novel ini, kita bisa tahu kalau orang yang angkuh dan tak peduli dengan yang lainnya akan bernasib mengenaskan saat masa yang akan datang dan sebaiknya kita bersikap rendah hati dan juga sopan agar bisa di hargai orang.
  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar