A. Identitas Buku
Judul
buku : Katak Hendak Jadi Lembu
Pengarang : Nur Sutan Iskandar
Penerbit : Balai Pustaka
Tempat
terbit : Jakarta
Tahun
terbit : 1935(pertama),dan 2008(di
cetak ulang)
Jumlah
halaman : 224
Katak Hendak Menjadi Lembu ini adalah sebuah novel klasik
karangan Nur Sutan Iskandar yang mengisahkan tentang kehidupan seseorang yang
gila akan pangkat atau bertingkah layaknya katak yang hendak jadi lembu dan
kehidupannya dalam berumah tangga.
B. Sinopsis
Suria adalah seorang mantri
kabupaten yang sangat sombong,egois, dan gila hormat. Dia mempunyai 3 orang
anak dan seorang istri yang sangat baik dan penyayang yaitu zubaidah. Kehidupan
keluarganya tidak begitu harmonis mereka saling acuh tak acuh tetapi zubaidah
sangat perhatian kepada keluarganya, zubaidah kadang sangat jengkel kepada
suaminya yang hidup dengan berfoya-foya dan jarang untuk membiayai anaknya
bersekolah apalagi ia memiliki hutang yang sangat banyak.
Sebenarnya ayahnya zubaidah, Hj.
Hasbullah ingin menikahkan zubaidah dengan Raden Prawira tetapi ayahnya suria
yaitu Hj. Zakaria memohon untuk menikahkan anaknya dengan suria karena mereka
berdua bersahabat, dan akhirnya mereka menikah tetapi pernikahan tersebut tidak
membawa kebahagian dalam hidup zubaidah.
Di tempat ia bekerja dia dikenal
dengan keangkuhannnya,kadang-kadang ia suka memerintah orang dengan
seenaknya,dan semua orang harus menghormatinya. Suria pernah di undang
oleh Hj.Junaedi ke rumahnya yang besar. Hj.Junaedi menyambutnya penuh sukacita.
Tapi, setelah ia tahu bahwa Suria yang gila hormat itu, dan sering menjelekan
Kosim. Ia pun menjadi sebal dengan Suria.
Karena suria senang berfoya-foya
kebutuhan keluarganya semakin menurun, biarpun dinasehati oleh zubaidah suria
pun tetap ingkar, malah dia memaksa mertuanya untuk meminjam uang tetapi pada
saat itu mertuanya tidak memiliki uang dan dalam keadaan kekurangan, akhirnya
suria pun menjadi Klerk dengan gaji yang lebih besar.
Setelah itu dia merayakannya
dengan membeli barang yang tidak diperlukan karena ia merasa gaji sebagai klerk
jauh lebih besar, tetapi nasi sudah menjadi bubur dia pun akhirnya tidak
menjadi klerk dan hutangnya semakin membesar karena barang –barang itu, yang
akhirnya membuat suria mengundurkan diri dan tinggal menumpang ke rumah anak
sulungnya yang tinggal di bandung bersama keluarganya dan meninggalkan
hutang-hutangnya
Walaupun sudah tinggal menumpang
ia tetap saja pada kepribadiannya yang dulu dan membuat istrinya meninggal
karena perbuatannya yang menjadi-jadi. Akhirnya anak sulung suria yang telah
berumah tangga serta saudara-saudaranya mengusir suria dan suria pun merantau
ke rumah orang tuannya Disana ia tinggal bersama Mak Iyah, ibunya. Tetapi, setelah
beberapa hari ia tinggal. Ia pergi dan tak kembali lagi. Ia pergi entah kemana.
C. Unsur
instrinstik
1.
Tema : Sosial dan Moral
2. Tokoh dan penokohan
a. Suria
: angkuh,egois,
serakah,dan pemalas
b. Zubaidah : baik hati,perhatian,dan
penyayang
c. R. Muhammad Kosim : ramah dan mudah tersinggung
d. Hj. Hasbullah : jujur, ramah, dan suka menolong
e. Hj Zakaria : baik dan penyayang
f. Suminta : ramah, sopan, dan penurut
g. Patih R.Atmadi Nata : baik dan bijaksana
h.Abdulhalim : ramah dan baik
i. Sastrawijaya : baik dan bijaksana
j. Hamzah : baik dan bijaksana
g. Patih R.Atmadi Nata : baik dan bijaksana
h.Abdulhalim : ramah dan baik
i. Sastrawijaya : baik dan bijaksana
j. Hamzah : baik dan bijaksana
k. Hj Junaidi : sopan,ramah,dan mudah
tersinggung
l. Khadijah : bijaksana dan ramah
m.Saleh : periang
n. Aminah : penurut
3.
Latar
a.
Tempat : rumah suria, kantor, rumah Hj
Junaidi, dan rumah Abdulhalim
b.
Waktu : malam,pagi,dan siang
c.
Suasana : hening, bahagia,mencengkam,ribut,dan haru
4. Alur : maju-mundur
5. Sudut pandang : Orang ketiga serba tahu
6. Amanat : kita sebaiknya tidak
boleh angkuh dan sombong kepada sesama manusia karena kita di mata tuhan itu
sama
7. Gaya bahasa : melayu ( terdapat banyak majas
)
D. Unsur ekstrinsik
1. Nilai yang terkandung
a. Nilai moral :-sebaiknya kita tidak boleh sombong dan
angkuh karena kita adalah makhluk yang
lemah di mata tuhan
-sebaiknya kita bersabar dalam menghadapi
cobaan
b. Nilai sosial :-kita seharusnya saling tolong menolong antar
sesama
-sesama manusia kita
patutnya saling bergaul
biarpun pangkatnya
berbeda atau lainnya
c.
Nilai budaya : Kawin paksa yang terjadi di
zaman dahulu
2.
Biografi Pengarang
Sastrawan yang memiliki nama asli Muhammad Nur ini dilahirkan di
Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, 3 November 1893. Pendidikannya
ditempuh di Sekolah Melayu Kelas II (1908). Selanjutnya, ia belajar untuk
menjadi guru bantu (tamat 1911) dan menempuh ujian Klein Ambtenaars Examen.
Menjadi guru bantu di Muarabeliti, Palembang, Sumatera Selatan, dan pindah ke
kota Padang, Sumatera Barat, untuk menjadi guru Sekolah Melayu Kelas II di kota
tersebut (1914).
Tahun 1919, ia meninggalkan kota Padang dan hijrah ke Jakarta. Di
Jakarta, ia bekerja di Balai Pustaka. Sambil bekerja, ia terus berusaha untuk
menambah pengetahuannya, baik secara formal maupun nonformal. Tahun 1921, ia
dinyatakan lulus dari Kleinambtenaar (pegawai kecil) di Jakarta dan pada tahun
1924, mendapat ijazah dari Gemeentelijkburen Cursus (Kursus Pegawai
Pamongpraja) di Jakarta. Ia pun terus memperdalam kemampuan berbahasa
Belandanya.
Berkat ketekunannya, ia menjadi orang yang pertama bekerja di
Balai Pustaka sebagai korektor naskah karangan, dan selanjutnya diangkat
sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925 -- 1942) dan Kepala Pengarang
Balai Pustaka (1942 -- 1945).
Dalam beberapa karya asli yang ia tulis,
tercatat beberapa kali ia menggunakan pengalaman pribadinya untuk dituangkan ke
dalam sebuah karyanya, antara lain dalam karya "Apa Dayaku karena Aku
Perempuan" (novel, 1922), "Cinta yang Membawa Maut" (novel,
1926), "Salah Pilih" (novel, 1928), dan "Karena Mertua"
(novel, 1932), ia banyak bercerita tentang kepincangan yang terjadi dalam
masyarakatnya, khususnya yang berkaitan dengan adat istiadat. Pengalaman ke
tempat pelacuran bersama Dr. Sutomo dituangkannya menjadi sebuah karangan yang
diberi judul "Neraka Dunia" (novel, 1937). Dalam "Pengalaman
Masa Kecil" (kumpulan cerpen, 1949), Nur Sutan Iskandar dengan jelas
bercerita tentang keindahan kampung halamannya dan suka duka masa kecilnya.
Sedangkan karya tulisnya yang berupa saduran dan terjemahan, ia ambil dari
beberapa buku karya pengarang asing seperti Moliere, Jan Ligthrta, Alexandre
Dumas, H. Rider Haggard, Arthur Conan Doyle, K. Gritter, dll..
Sumber :http://pelitaku.sabda.org/nur_sutan_iskandar
E.
Keunggulan
novel ini: -Ceritanya sangat menarik
-Terdapat
banyak nilai moral didalamnya
-Pengemasannya yang sangat apik
F.
Kelemahan
novel ini : -Bahasanya kurang bisa dipahami
-Terdapat banyak
majas
-Ceritanya
tidak cocok untuk para pemuda
G. Kesimpulan
Dengam membaca novel
ini, kita bisa tahu kalau orang yang angkuh dan tak peduli dengan yang lainnya akan
bernasib mengenaskan saat masa yang akan datang dan sebaiknya kita bersikap
rendah hati dan juga sopan agar bisa di hargai orang.

